sebaik-baik bentuk purnama malam ini, adalah wajah mu...
#edisigombal — bersama Hendra Ibnu Zul dan 3 lainnya.
#edisigombal — bersama Hendra Ibnu Zul dan 3 lainnya.
Mungkin dalam beberapa tanggapan dalam syair tersebut ada yang kurang berkenan dan tidak sesuai dengan fitrah manusisa yang telah di ciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk,
Ikhwafillaah ...
Pernahkah selintas kita mendengar dan membaca rayuan maut ini ....
" ooh kasihku...wajahmu sungguh indah bak bulan purnama ..."
Sungguh...Jelas jelas ini suatu penghinaan terhadap wanita ...
Yang jelas jelas Allaahu Ta'ala berfirman :
" laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwim .. "
" sesungguhnya manusia di ciptakan dalam sebaik baik bentuk … "
{ qs : at tiin 4 }
BaarakAllaahufiik…
Pernahkah selintas kita mendengar dan membaca rayuan maut ini ....
" ooh kasihku...wajahmu sungguh indah bak bulan purnama ..."
Sungguh...Jelas jelas ini suatu penghinaan terhadap wanita ...
Yang jelas jelas Allaahu Ta'ala berfirman :
" laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwim .. "
" sesungguhnya manusia di ciptakan dalam sebaik baik bentuk … "
{ qs : at tiin 4 }
BaarakAllaahufiik…
Memang benar adanya fitroh manusia di ciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk dan manusia adalah makhluk yang paling utama dan yang yang di ciptakan Allah subhanahu wa ta'ala,
.....Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk....(QS. Al Bayyinah:7) . Bahkan orang yang beriman lebih utama dari malaikat,
Firman Allah Ta'ala,
(Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.)
أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
"mereka itu adalah sebaik-baik makhluk
". Dari ayat ini, Abu Hurairah dan ulama lainnya berpendapat bahwa
orang beriman tetap lebih utama dari para malaikat berdasarkan ayat yang
mulia ini. (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.)
Namun ada kalanya dalam bersyair ada perumpamaan yang menggambarkan serupa keindahan ciptaan Allah yang lainya, namun tetap saja hal itu tak merubah kutamaan dan kedudukann manusia dengan makhluk selainya....
sepenggal syair dan perumpamaan tentang rembulan;
أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مثل السَّيْفِ ؟ قَالَ : ” لا ، بَلْ مثل الْقَمَرِ ” .
“Apakah wajah beliau seperti pedang?” Dia menjawab, “Tidak, tetapi wajah beliau seperti rembulan.” As-Syamail Al-Muhammadiyah hadits nomor 10 (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebiasaan-serampangan-menukil-berita-fenomena-berita-deportasi-orang-ganteng-di-saudi.html)
Dan berbagai dalil lainnya yang menunjukkan fisik Rasulullah yang baik, wajah yang tampan dan ditambah lagi akhlak yang sempurna.
---------
Abul Faraj dan yang lainnya Rahimahulloh menuturkan, bahwa pernah seorang wanita cantik tinggal di Makkah. Ia sudah bersuami. Suatu hari ia bercermin dan menatap wajahnya sambil bertanya kepada suaminya, “Apakah menurutmu ada seorang lelaki yang melihat wajah ini dan tidak tergoda?” Sang suami menjawab, “Ada.” Si istri bertanya lagi, “Siapa dia?” Suaminya menjawab, “Ubaid bin Umair.” Si istri menjawab, “Izinkan aku untuk menggodanya.” “Aku sejak tadi sudah mengizinkanmu.” Jawabnya. Abul Faraj menuturkan, “Maka wanita itu mendatangi Ubaid seperti layaknya orang yang meminta fatwa. Ia berduaan dengan beliau di ujung masjid Al-Haram dan menyingkapkan wajahnya yang bagai kilauan cahaya rembulan. Maka Ubaid berujar kepadanya, “Wahai budak Allah, tutuplah wajahmu.”
(Audatul Hijaab (II/533), dan dinisbatkan kepada ad-Durrul Mantsuur fii Thabaqaat Rabaatil Khuduur (hal. 517)
----------
“Rombongan yang pertama kali masuk surga berbentuk rembulan di malam purnama. Mereka tidak akan meludah, tidak akan berdahak, dan tidak akan buang air di dalamnya. Bejana-bejana dan sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Tempat bara api mereka terbuat dari kayu wangi. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Setiap mereka memiliki dua istri..” (HR. Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 5065)
---------
Berkata Al-Fadl bin ‘Ashim,”Tatkala seorang pria sedang thawaf di ka’bah tiba-tiba dia memandang seorang wanita yang ayu dan tinggi semampai, maka diapun terfitnah disebabkaan wanita tersebut, hatinyapun gelisah. Maka diapun melantunkan sebuah syair,
Saya tidak menyangka kalau saya bisa jatuh cinta….tatkala sedang thawaf mengelilingi rumah Allah yang diberi “kiswah”…
Hingga akhirnya akupun ditimpa bencana maka jadilah aku setengah gila…
Gara-gara jatuh cinta kepada seorang seorang wanita yang parasnya menawan laksana rembulan…
Duhai…sekirainya aku tidak memandang elok rupanya
Demi Allah apa kiranya yang bisa aku harapkan dari pandanganku dengan memandangnya? (Dzammul Hawa hal 67
wallahu'alam
