Sabtu, 26 Oktober 2013

 Sepenggal syair tentang rembulan

sebaik-baik bentuk purnama malam ini, adalah wajah mu...

#edisigombal — bersama Hendra Ibnu Zul dan 3 lainnya.
Mungkin dalam beberapa tanggapan dalam syair tersebut ada yang kurang berkenan dan tidak sesuai dengan fitrah manusisa yang telah di ciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk,
laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwim .. "

" sesungguhnya manusia di ciptakan dalam sebaik baik bentuk … "
(QS At-Tin)

seperti juga yang di sampai kan oleh saudara ana akhy Abu Zahra Wa Asyikaa
Ikhwafillaah ...
Pernahkah selintas kita mendengar dan membaca rayuan maut ini ....

" ooh kasihku...wajahmu sungguh indah bak bulan purnama ..."

Sungguh...Jelas jelas ini suatu penghinaan terhadap wanita ...
Yang jelas jelas Allaahu Ta'ala berfirman :

" laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwim .. "

" sesungguhnya manusia di ciptakan dalam sebaik baik bentuk … "

{ qs : at tiin 4 }

BaarakAllaahufiik…


Memang benar adanya fitroh manusia di ciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk dan manusia adalah makhluk yang paling utama  dan yang yang di ciptakan Allah subhanahu wa ta'ala,
.....Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk....(QS. Al Bayyinah:7) . Bahkan orang yang beriman lebih utama dari malaikat,
 Firman Allah Ta'ala,
أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
"mereka itu adalah sebaik-baik makhluk ". Dari ayat ini, Abu Hurairah dan ulama lainnya berpendapat bahwa orang beriman tetap lebih utama dari para malaikat berdasarkan ayat yang mulia ini. 
(Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.)
Namun ada kalanya dalam bersyair ada perumpamaan yang menggambarkan serupa keindahan ciptaan Allah yang lainya, namun tetap saja hal itu tak merubah kutamaan dan kedudukann manusia dengan makhluk selainya....
sepenggal syair dan perumpamaan tentang rembulan;
Al-Barra bin ‘Adzib radhiallahu anhu pernah ditanya,
أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مثل السَّيْفِ ؟ قَالَ : ” لا ، بَلْ مثل الْقَمَرِ ” .
Apakah wajah beliau seperti pedang?” Dia menjawab, “Tidak, tetapi wajah beliau seperti rembulan.” As-Syamail Al-Muhammadiyah hadits nomor 10 (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebiasaan-serampangan-menukil-berita-fenomena-berita-deportasi-orang-ganteng-di-saudi.html)
Dan berbagai dalil lainnya yang menunjukkan fisik Rasulullah yang baik, wajah yang tampan dan ditambah lagi akhlak yang sempurna.


 ---------
Abul Faraj dan yang lainnya Rahimahulloh menuturkan, bahwa pernah seorang wanita cantik tinggal di Makkah. Ia sudah bersuami. Suatu hari ia bercermin dan menatap wajahnya sambil bertanya kepada suaminya, “Apakah menurutmu ada seorang lelaki yang melihat wajah ini dan tidak tergoda?” Sang suami menjawab, “Ada.” Si istri bertanya lagi, “Siapa dia?” Suaminya menjawab, “Ubaid bin Umair.” Si istri menjawab, “Izinkan aku untuk menggodanya.” “Aku sejak tadi sudah mengizinkanmu.” Jawabnya. Abul Faraj menuturkan, “Maka wanita itu mendatangi Ubaid seperti layaknya orang yang meminta fatwa. Ia berduaan dengan beliau di ujung masjid Al-Haram dan menyingkapkan wajahnya yang bagai kilauan cahaya rembulan. Maka Ubaid berujar kepadanya, “Wahai budak Allah, tutuplah wajahmu.”
(Audatul Hijaab (II/533), dan dinisbatkan kepada ad-Durrul Mantsuur fii Thabaqaat Rabaatil Khuduur (hal. 517)


----------
Rombongan yang pertama kali masuk surga berbentuk rembulan di malam purnama. Mereka tidak akan meludah, tidak akan berdahak, dan tidak akan buang air di dalamnya. Bejana-bejana dan sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Tempat bara api mereka terbuat dari kayu wangi. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Setiap mereka memiliki dua istri..(HR. Al-Bukhari no. 3245 dan Muslim no. 5065)


---------
Berkata Al-Fadl bin ‘Ashim,”Tatkala seorang pria sedang thawaf di ka’bah tiba-tiba dia memandang seorang wanita yang ayu dan tinggi semampai, maka diapun terfitnah disebabkaan wanita tersebut, hatinyapun gelisah. Maka diapun melantunkan sebuah syair,
Saya tidak menyangka kalau saya bisa jatuh cinta….tatkala sedang thawaf mengelilingi rumah Allah yang diberi “kiswah”
Hingga akhirnya akupun ditimpa bencana maka jadilah aku setengah gila…
Gara-gara jatuh cinta kepada seorang seorang wanita yang parasnya menawan laksana rembulan…
Duhai…sekirainya aku tidak memandang elok rupanya
Demi Allah apa kiranya yang bisa aku harapkan dari pandanganku dengan memandangnya? (Dzammul Hawa hal 67

wallahu'alam

Jumat, 25 Oktober 2013

Menyoal Gelar "pak haji"

Entah mulai kapan masyarakat muslim di indonesia khususnya (atau bahkan kawasan asia tenggara) snagat menyukai dan memandang gelar "haji". Bahkan untuk menunjukan status "terhormat" tersebut tak segan-segan mereka mengunakan berbagai macam tanda yang memungkinkan mereka di kenali poleh orang banyak. peci putih, serban, selalu memakai jubah padahal sebelumnya tidak pernah, sampai-sampai yang putri pun memakai jilbab khusus "bu haji" dan yang selainya

Ada yang merasa tidak senang bila ada orang yang memanggilnya dengan menyebut namanya saja tanpa menambahkan gelar haji atau hajah di depannya. Demikian pun saat seminar atau kampanye, gelar yang satu ini tak lupa di sematkan. Seakan-akan rasanya kurang afdal bila orang yang sudah pergi ke mekah berhaji saat pulang tidak di sematkan dengan gelar ini.

Apalagi dalam dunia dakwah, seakan-akan gelar haji menjadi sebuah kewajiban dari sosok seorang ustadz, Dan di antara pengalaman nyata yang di alami oleh teman penulis, saat beliau mengimami sholat Id dna memberikan khotbah di sebuah kota, sang pembawa acara memberitahukan kepada para jama'ah bahwa yang akan bertindak sebagai khatib saat itu, adalah haji fulan(menyebut nama teman saya-pen). Alangkah kagetnya saat teman saya mendengarkan kerana teman saya memang belum pernah pergi berhaji. Allah al-Musta'an


Sejarah singkat munculnya gelar haji(1)

Ibadah haji memang mulia, bahkan bagi wanita, ibadah haji adalah jihad mereka, Kendati demikian, tidak dikenal pada masa para sahabat radiyyallahu'anhum atau tiga generasi awal yang menggelari diri mereka dengan sebutan "Haji Fulan" atau "Hajah Fulanah"

Al-Syaikh Bakr ibn 'Abddillah Abu Zaid rohimahullah menerangkan(2), "Adapun menjadikan (gelar haji) sebagai gelar keislaman bagi setiap orang yang berhaji, maka hal itu tidaklah di kenal pada kalangan generasi-generasi terbaik. Dan para ulama sudah membahas hukum memanggil orang (muslim) yang sduag berhaji atau seseorang kafir zimi (yang sudah berziarah ke Baitul-Maqdisi atau tempat suci mereka) dengan panggilan haji."

Entah mulai semenjak kapan sebutan "haji" ini mulai di banggakan di tanah air dan atas sebab apa gelar itu sangat di banggakan. Namun, beberapa sumber sejarah dan tulisan tentangnya menyimpulkan bahwa mungkin saja karena biaya yang tidak sedikit  dan perjuangan keras untuk bisa sampai ke mekah dan kembali dengan selamat menjadikan ibadah ini bernilai sangat 'eksklusif'  yang akhirnya harus di banggakan.

Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibn Kasir, penyebutan gelar "haji fulan" pertama kali di sebut pada tahun 660-an Hijriyah, dengan nama "Haji Nasr tarsus", seorang pedagang yang saleh dan dermawan(662H). Dan yang termasuk memliki gelar ini adalah ayah al-Iman al-Nawawi, "Haji Syaraf ibn Mira"(685H)

Adapun penggunaaan gelar ini di indonesia(Nusantara) sudah dipakai semenjak sebelum kedatangan penjajah eropa. Dan bukanlah orang yang sembarangan yang dapat memakai gelar ini, hanya keluarga kerajaan yang sudah masuk islam atau orang yang benar-benar berharta yang dapat menunaikan ibadah haji.

Seiring berjalananya waktu, saat indonesia di jajah belanda dan VOC, maka penyematah gelar "haji" pada nama-nama orang indonesia pada masa penjajahan itu karena di dasari siasat politik. Maksudnya, karena rata-rata orang yang pergi berhaji saat itu memiki semangat juang melepaskan diri dari penjajah, maka pihak belanda mewajibkan penyematan gelar "haji" pada setiap nama yang pernah pergi haji ke Mekah al-Mukaramah. Itu di lakukan supaya memudahkan pengontrolan gerakangerakan yang kiranya nanti di lakukan oleh para haji tersebut. Ketentuan ini di atur dalam peraturan pemerintahan belanda Staasblaad tahun 1903. Dari sini dapat kita ketahui bahwa bukan kebahagiaan bila harus menyandang gelar "H" di depan namanya saat itu, melainkan terkesan seperti DPO. Mengherankan, Sekarang gelar ini di jadikan barang buruan dalam masyarakat muslim saat ini


Gelar "Haji" rentan Ria dan Ujub

Saudaraku, perintah utama dari Allah untuk kita yang masih hidup di dunia ini adalah mengikhlaskan segala ibadah kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Karena Allah tidak menerima ibadah yang tidak murni di peruntukan kepada-Nya. Untuk menjaga kemurnian ini, Rasulullah shalalllahu'alaihi wa salam telah mengingatkan umatnya agar mewaspadi penyakit yang dapat merusak kemurnian ibadah kita. penyakit itu bernama ria (riya'). Penyakit ini sangat samar dan bisa masuk dalam semua ibadah. Tak terkecuali dalam ibadah haji. Apalagi berhaji tidak semua orang mampu melaksanakanya dan di zaman dahulu hanya orang-orang yang bena-benar kaya saja yang mampu melaksanakanya. Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam bersabda;
"sesungguhnya yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam menjawa, itu adalah ria. Allah nanti akan berkata pada hari amalan hamba di balasi, "pergilah kepada orang-orang yang menjadi kan kamu ria dengan amal mu semasa di dunia! Lihatlah, apakah engkau akan mendapatkan balasan (kebaikan) dari mereka?!" (HR. Ahmad:23686, di nilai shahih oleh Syu'aib al-Arna'ut)

Perbolehan memanggil orang yang telah menunaikan ibadah haji memang di perselisihkan oleh para ulama. Karena, bagaimana jua dari sisi bahasa sebutan "haji" adalah orang yang melakukan manasik.
Al-Imam al-Nawawi dalam al-Majmu'(3) mengatakan, "Boleh memanggil orang yang sudah berhaji dengan sebutan 'haji' setelah ia bertahalul, walaupun setelah selang beberapa tahun, atau bahkan setelah wafatnya. Tidak di benci dalam hal itu. Adapun riwayat yang di bawakan oleh al_Baihaqi dari al-Qasim ibn 'Abdirrahman dari Ibn Mas'ud rohimahullah yang berkata, "Janganlah kamu mengatakan "sesungguhnya saya membujang"' karena seorang muslim tidak membujang. Dan janganlah kamu mengatakan saya "Haji", karena haji adalah untuk orang yang sedang berihram.' maka itu (adalah riwayat) yang mauquf dan muqati'."
Al-Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa masalah ini bermula dari perselisihan ulama usulfikih, apa di syaratkan ketika menjuluki seseorang dengan sebuah gelar melakukan pekerjaan tersebut? Atau boleh, walaupun sudah berlalu? makabeliau mengatakan, "Hal itu di syaratkan. Dan itulah mazhab kawan-kawan kami (ulama al-syafi'iyyah yang lain). Maka tidak bisa di juluki 'pemukul' setelah ia tidak melakukan pemukulan, tidak juga bisa di sebut sebgai "haji" setelah ia selesai menjalankan ibadah itu, kecuali secara kiasan."(4)

ketika al-Lajnah al-Dai,mah (komite fatwa) Arab Saudi yang di pimpin oleh al-Syaikh Ibn Baz rohimahullah di tanya tentang kebiasaan seseorang yang memanggil orang yang telah berhaji dengan sebutan "sayyid" atau "haji" menurut hukum syari'at, maka komite fatwa menyatakan (No. Fatwa: 17797), "dibenci mengucapkan panggilan 'sayyid' atau 'haji' (terhadap orang yang melaksanakan haji) karena terdapat riwayat dari Nabi shalallahu'alaihi wa salam yang menunjukan atas di bencinya hal itu. Dan yang di perintahkan adalah memanggil dengan nama kun-yah-nya, atau memanggilnya denga sebutan 'saudaraku' jika ia orang muslim. adapun memanggil orang yang sudah berhaji denga sebuta 'haji' maka lebih baik di tinggalkan, karena melakukan ibadah yang wajib tidak menghasilkan nama atau gelar, tapi menghasilkan pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala bagi orang yang amalnya diterima. Dan setiap muslim wajib untuk tidak menggantungkan dirinya pada hal-hal semacam ini supaya niatnya ikhlas karena Allah."

Namun demikian, bila ada seorang juru dakwah yang bisa kurang di terima di dalam  sebagian masyarakat yang memandang haji bagi ustadz adalah sebuah kelaziman, maka tidak mengapa menyematkan gelar haji pada namanya kalau dirinya telah benar-benar berhaji. Dengan syarat ia harus tetap memperhatikan jemurnian niat saat berdakwah. Karena memang masalah ini adalah masalah yang sangat berat. Wallahu'Alam.


Penutup

saudara ku keikhlasan memanglah berat, tak segampang mengucapkan lafaznya, oleh karena itu hendaknya kita tidak terlalu husnuzann (baik sangka) terhadap diri kita sendiri karena bagaimana jua setan telah berpengalaman selama bertahun-tahun menyesatkan manusia melalui celah ujub dan ria.
Sufyan al-Sauri rohimahullah pernah  mengatakan "Aku tidak pernah merasa kesulitan yang lebih berat dalam memperbaiki sesuatu kecuali pada niat ku, sekali waktu ia akan baik, sekali waktu ia buruk.(5)

 1. Disarikan dari Mu'jam al-Manahi al-Lafziyyah, wikipedia, al-Bidayah wa al_Nihayah,
 2. Mu'jam al-Manahi al-Lafziyyah hlm. 219-220
 3. Al-Majmu' Syarh al-Muhazzab 8/281[maktabah syamilah]
 4. Ibid
 5. Siyar A'lam al-Nubala 7/258
                                                                 
                               
                                                                                   --Abu Usamah al-Kadiry Hafidhullah--



Disalin dari  BULETIN AL FURQON
Tahun ke-8, volume 8 no.4
 
Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Waktunya diisi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan tanda orang yang tidak baik islamnya adalah sebaliknya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Tanda Baiknya Islam Seorang Muslim
Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 288)
Tanda baiknya seorang muslim adalah dengan ia melakukan setiap kewajiban. Juga di antara tandanya adalah meninggalkan yang haram sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh, begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim.  Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah secara bebas (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).
Menjaga Lisan, Tanda Baiknya Islam Seseorang
Kata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 290).
Tentang keutamaan menjaga lisan ini diterangkan dalam ayat berikut yang menjelaskan adanya pengawasan malaikat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh lisan ini. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).
Dalam hadits Al Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).
Abu Ishaq Al Khowwash berkata,
إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم
“Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48).
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه
Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291). Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.
Ibnu Rajab berkata, “Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 295).
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Termasuk yang Bermanfaat
Mungkin ada sebagian yang menganggap bahwa meninggalkan hal yang tidak bermanfaat berarti meninggalkan pula amar ma’ruf nahi mungkar.
Jawabnya, tidaklah demikian. Bahkan mengajak pada kebaikan dan melarang dari suatu yang mungkar termasuk hal yang bermanfaat. Karena Allah Ta’ala berfirman,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104) (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, 182). Sehingga dari sini menunjukkan bahwa nasehat kepada kaum muslimin di mimbar-mimbar dan menulis risalah untuk disebar ke tengah-tengah kaum muslimin termasuk dalam hal yang bermanfaat, bahkan berbuah pahala jika didasari dengan niat yang ikhlas.
Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk mengisi hari-hari kami dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat.
Wa billahit taufiq.

Referensi:
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.
Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ats Tsaroya, cetakan ketiga, tahun 1425 H.
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Tahqiq: Musthofa Sayyid Muhammad, dkk, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 24 Rabi’uts Tsani 1433 H
www.rumaysho.com
Bodoh saja bila tetap mengelak padanya yg telah meninggalkanmu..
Seribu dalih saat kau bertahan,

itu hanya akan menghujam luka pada hatimu...

Bukan itu, berharap sisa goresan luka,
perkenanlah sebuah senyuman baru menyapa hatimu..
Bukan Pria Idaman

Manusia idaman sejati adalah makhluk langka. Begitu banyak ujian dan rintangan untuk menjadi seorang idaman sejati. Kebalikannya, yang bukan idaman malah tersebar ke mana-mana. Inilah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Siapakah pria yang tidak pantas menjadi idaman dan tambatan hati? Apa saja ciri-ciri mereka? Mudah-mudahan -dengan izin Allah- kami dapat mengungkapkannya pada tulisan yang singkat ini.

Ciri Pertama: Akidahnya Amburadul
Di antara ciri pria semacam ini adalah ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak. Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan jimat-jimat. Ingain buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar semakin PD dalam melangkah.
Inilah ciri pria yang tidak pantas dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang rusak.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.” (Al Fawaid)
Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak -padahal itu adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut rusak. Perhatikanlah hal ini!

Ciri Kedua: Menyia-nyiakan Shalat
Tidak shalat jama’ah di masjid juga menjadi ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jama’ah bagi pria adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an dan berbagai hadits. Berikut di antaranya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun  ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab, ”Ya”. Rasulullah bersabda, ”Penuhilah seruan (adzan) itu.” (HR. Muslim). Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena  dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!
Imam Asy Syafi’i sendiri mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107)

Jika pria yang menyia-nyiakan shalat berjama’ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjama’ah sendirian maupun secara berjama’ah?!
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, ”Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (pembahasan dosa-dosa besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”


Ciri Ketiga: Sering Melotot Sana Sini
Inilah ciri berikutnya, yaitu pria yang sulit menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Inilah ciri bukan pria idaman. Karena Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.” (QS. An Nur: 30)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya.
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)
Boleh jadi laki-laki tersebut jika telah menjadi suami malah memandang lawan jenisnya sana-sini ketika istrinya tidak melihat. Kondisi seperti ini pun telah ditegur dalam firman Allah,
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghofir: 19)
Ibnu ‘Abbas ketika membicarakan ayat di atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun pura-pura menundukkan pandangannya. Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (12/181-182).
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakan ia ingin khianat ataukah tidak.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 12/182, Darul Qurthubah)


Ciri Keempat: Senangnya Berdua-duaan
Inilah sikap pria yang tidak baik yang sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi kholwat yang juga terlarang.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)


Ciri Kelima: Tangan Suka Usil
Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.
Dari Abdulloh bin ‘Amr, ”Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.” (HR. Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Salim dalam Al Manahi As Syari’ah)
Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh dia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Malik dishohihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaliy)
Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)


Ciri Keenam: Tanpa Arah yang Jelas
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ
Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Muslim no. 996)
Berarti kriteria pria idaman adalah ia bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah.
Sehingga seorang pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa berwirausaha mandiri.
Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun, seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup untuk dapat mendidik istri dan keluarganya.
Sehingga dari sini, seorang pria yang kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa sebagai petunjuk bagi para wanita muslimah yang ingin memilih laki-laki yang pas untuk dirinya. Dan juga bisa menjadi koreksi untuk pria agar selalu introspeksi diri. Nasehat ini pun bisa bermanfaat bagi setiap orang yang sudah berkeluarga agar menjauhi sifat-sifat keliru di atas. Semoga Allah memudahkannya.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Bismillah....
Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.