Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu
Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i,
kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat
kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf
bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab
ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim
dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7
Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah
tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.
Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya
Ia
belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam
ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan
membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab
al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab
al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar
dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li
Ibni Ushfur.
Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi,
Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin
Muhammad al-Harraniy.
Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui
teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam
pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.
Pada akhirnya
beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif)
kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun
712 H hingga wafatnya tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang
pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul
mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan
pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh
karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau
mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan
atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan
cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.
Ibnul
Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu
Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu
Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.
Sebagai
hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu
Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang
penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah
Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa
yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang
berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din
yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap
bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj
kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai
berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad
jumud dan taqlid buta.
Beliau peringatkan kaum muslimin dari
adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model
orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.
Ibnul Qayyim
rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah
bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa
menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap Ilmu
Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai
puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman
serta Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Semuanya
itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada
prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah
terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang
telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu
Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam asy-syarifah.
Oleh karena itu beliau berpegang pada
(prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum
berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah,
fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati
oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam
fiqih).
Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis,
beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti
sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan
manusia di dunia maupun di akhirat.
Beliau rahimahullah
benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir
dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak
mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.
Sasarannya
Sesungguhnya
Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau
telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa
dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu
gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika
jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji
Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa
telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi
sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam
kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif
(agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat
(pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap
ayat-ayat al-Qur’anul Karim.
Mereka banyak membuat penafsiran,
ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud
menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.
Maka
adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang
memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi
musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan
cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan
hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman
Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu
menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka.” (an-Nahl:44).
Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa
yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).
Murid-Muridnya
Ibnul
Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi
fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak
manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan
ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid
beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti
keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama
Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu
Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam
al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab
Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad
bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin
Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali
bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir
al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.
Aqidah Dan Manhajnya
Adalah
Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran
apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran
wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim sebagai
manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang
benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan
teori-teori kaum filosof.
Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan,
“Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam
atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu
memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang
Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan
fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa
telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah
dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta
fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya
perlu dipertanyakan.”
Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar
tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan
kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari
luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda
lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan
sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah
Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manhaj
serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada
sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh
ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah)
serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.
Oleh
sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf;
orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama
waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada
itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar
atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah,
Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.” (Saba’:6).
Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.
Kendatipun
beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari
pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah
melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.
Mengenai
pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid
terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai
berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari
sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam
banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai
pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai
persoalan lainnya.
Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan
membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama
al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’
adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi
dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu
penelitian dan manakala sedang berargumentasi.
Di antara
da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan
berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat
kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa,
namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.
Adapun
cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab,
as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli
(menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah,
Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah
diakui baik).
Ujian Yang Dihadapi
Adalah wajar jika orang
‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan
menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami
tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya,
menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.
Orang-orang
pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu
lainnya kontra. Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai
jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara
bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara
al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.
Hal
itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi
berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan
diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.
Pada
saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an,
tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak
kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada
pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa
tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan.
Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh)
menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian
disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga
Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua
orang tuanya serta segenap kaum muslimin.
Pujian Ulama Terhadapnya
Sungguh
Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari
guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan
hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada
nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang
masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun
telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat
serta keluasan wawasannya.
Ibnu Hajar pernah berkata mengenai
pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas
pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab
salaf.”
Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang
yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya,
tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya
panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di
antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau
rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Ibnu Katsir berkata lagi,
“Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah.
Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di
tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi.
Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku
tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah
mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan
didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”
Ibnu Rajab
pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa
adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan
matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para
perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan
ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah
Ushul.”
Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan
seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau
mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang
jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.
Beliau telah
menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah
dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan
diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang
tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala
pengetahuan ilmiah yang agung.
Karya-Karyanya
Beliau
rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal
sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya
itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya
terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali,
baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis
banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai
kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun
menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai
kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang
telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu
bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas;
ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya
dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.
Beberapa Karyanya
1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.
Wafatnya
Ibnul-Qoyyim
meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan
di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah;
kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.
Sumber:
1. Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
2. Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
3. Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
4. Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
9. Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
10. Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi,